47 Tahun Setelah Debut, Legenda Jepang Masahiko Kondo Akhirnya Gelar Konser Solo Pertama di Seoul
Ikon era 80-an ini akan tampil di Blue Square bulan Juni, menandai pertunjukan solo pertamanya di Korea setelah kebangkitan viral 2024

Legenda hidup hiburan Jepang, Masahiko Kondo, akan menginjakkan kaki di Korea Selatan untuk pertama kalinya dalam 47 tahun kariernya. Penyanyi sekaligus aktor yang menjadi salah satu tokoh paling ikonik era idol Jepang tahun 1980-an ini akan menggelar konser solo di Blue Square WooriWON Banking Hall, distrik Yongsan, Seoul, pada 27 Juni 2026. Pertunjukan bertajuk "Masahiko Kondo ~Omachishitemashita 2026! Special in Seoul" ini diselenggarakan oleh perusahaan produksi konser Takiel.
Bagi para penggemar di kedua sisi Jepang dan Korea, pengumuman ini jauh lebih dari sekadar berita konser. Musik Kondo adalah bagian dari soundtrack masa muda seluruh generasi pendengar Asia Timur, dan kehadirannya di Seoul untuk konser solo – sesuatu yang belum pernah terjadi dalam karier hampir lima dekade ini – disambut sebagai momen budaya yang penuh makna.
Siapa Masahiko Kondo?
Untuk penonton muda yang belum mengenal Kondo, berikut perkenalan singkat: Masahiko Kondo, yang akrab disapa dengan julukan "Matchy", adalah salah satu figur sentral dari gelombang idol Jepang akhir 1970-an dan 1980-an. Ia debut sebagai aktor pada 1979 dan mulai berkarier di bidang musik setahun kemudian. Single debütnya tahun 1980, "Sneaker Blues", langsung menembus puncak tangga lagu Oricon – sebuah sinyal bahwa penggemarnya sudah sangat besar sejak awal.
Selama satu dekade berikutnya, Kondo mengumpulkan salah satu catatan penghargaan paling memukau dalam sejarah musik pop Jepang. Tahun 1981 ia meraih Golden Idol Award di Japan Record Awards ke-23. Tahun 1987, lagunya "Orokamono" memenangkan Grand Prize di Japan Record Awards ke-29, penghargaan tertinggi dalam musik populer Jepang saat itu. Japan Record Awards era 1980-an adalah setara terdekat dengan Grammy atau Daesang dalam hal pengakuan industri.
Namun, lagu paling ikoniknya adalah "Kinkiragini Sarigena Ku" yang dirilis tahun 1981. Lagu ini menjadi fenomena lintas batas – populer tidak hanya di Jepang, tetapi juga di kalangan anak muda Korea yang mengenalnya melalui pertukaran budaya Jepang-Korea yang tidak resmi namun masif di era itu. Bagi banyak orang Korea yang tumbuh besar di awal 1980-an, musik Kondo tak terpisahkan dari kenangan masa muda mereka.
Kebangkitan Viral 2024 yang Membawa Kondo Kembali ke Perhatian Korea
Pengumuman konser Seoul ini bukan tanpa sebab. Pada 2024, program MBN Korean-Japanese Song King Battle (한일가왕전) menampilkan penyanyi Jepang Sumida Aiko yang membawakan "Kinkiragini Sarigena Ku". Penampilan itu viral dengan 13 juta penayangan online dan memicu kembali minat luas masyarakat Korea terhadap katalog Kondo – baik dari mereka yang ingat versi aslinya dari masa muda, maupun generasi muda yang baru mengenalnya untuk pertama kali.
Momen viral itu tampaknya menjadi katalis langsung bagi konser Seoul. Tim Kondo dan promotor Korea melihat bahwa ada penonton nyata yang menunggu di pasar yang punya sejarah panjang dengan musiknya, dan akhirnya memutuskan untuk menggelar pertunjukan solo ini.
Apa yang Bisa Diharapkan pada 27 Juni
Konser yang dijadwalkan pukul 17.00 pada 27 Juni di Blue Square WooriWON Banking Hall akan menampilkan Kondo membawakan lagu-lagu terbaiknya bersama elemen panggung spesial yang belum diumumkan secara rinci. Blue Square, yang berlokasi di distrik Yongsan di pusat Seoul, adalah venue konser berkapasitas menengah – jauh lebih intim dibandingkan arena besar yang biasa diisi artis K-pop dalam tur besar. Hal ini mengisyaratkan bahwa pertunjukan 27 Juni dirancang sebagai acara yang bermakna dan penuh penghayatan, bukan sekadar tontonan spektakuler.
Apa yang dibawakan Kondo pada 27 Juni kemungkinan besar akan dibentuk oleh apa yang paling ingin didengar penonton Korea: hit-hit yang mendominasi Oricon, balada pemenang penghargaan, dan tentu saja "Kinkiragini Sarigena Ku" – lagu yang bagi banyak penggemar Korea menjadi alasan utama mereka membeli tiket.
47 Tahun dan Sebuah Pertama
Label "pertama kali" dalam dunia hiburan kadang dilebih-lebihkan, tapi dalam kasus ini maknanya sungguh nyata. Kondo memiliki karier 47 tahun yang mencakup akting, musik, televisi, dan pertunjukan live berkelanjutan di Jepang. Ia selalu aktif – tidak pensiun, tidak istirahat panjang – hanya saja belum pernah ada kesempatan membawa konser solo ke Korea Selatan. Kenyataan bahwa ini adalah pertama kalinya tidak mencerminkan kurangnya minat atau permintaan, melainkan realitas logistik dan budaya tur lintas negara di era sebelum streaming membuat jangkauan global musik pop Asia menjadi lumrah.
Konser Seoul pun membawa nuansa senyap namun bermakna: menunaikan sesuatu yang lama tertunda. Bagi penggemar Korea yang tumbuh besar dengan musik Kondo namun tak pernah punya kesempatan menyaksikannya tampil live di negeri sendiri, 27 Juni di Blue Square adalah kesempatan yang mungkin tidak pernah dibayangkan oleh diri mereka yang lebih muda.
Tiket dan Langkah Selanjutnya
Informasi tiket untuk konser "Masahiko Kondo ~Omachishitemashita 2026! Special in Seoul" telah diumumkan melalui promotor Korea, Takiel. Mengingat minat viral yang kembali bergejolak dan sifat bersejarah dari acara ini, permintaan diperkirakan akan signifikan di kalangan generasi yang tumbuh bersama musik Kondo.
Apakah konser Seoul akan membuka pintu untuk tanggal-tanggal tambahan atau perhentian lain di kawasan ini masih belum dapat dipastikan. Untuk saat ini, 27 Juni di Seoul berdiri sebagai sebuah tonggak sejarah: Masahiko Kondo, dengan 47 tahun karier yang dibangun atas hit-hit puncak Oricon, Grand Prize Japan Record Awards, dan lagu-lagu yang bertahan melampaui zaman yang melahirkannya, akhirnya memberikan pengalaman live yang selama ini dinantikan oleh para penggemarnya di Korea.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포, AI학습 및 활용 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist focused on Korean music, film, and the global K-Wave. Reports on industry trends, celebrity profiles, and the intersection of Korean pop culture and international audiences.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar