Chae Yeon Akhirnya Menceritakan Kisah Lengkap Selfie Menangis yang Ikonik — "Aku Ambil 300 Foto Sambil Menangis Pukul 3 Pagi"
Veteran K-pop ini mengungkap apa yang sebenarnya terjadi malam ketika selfie Cyworld-nya menjadi legenda internet selama 20 tahun

Dua puluh tahun setelah satu foto malam hari menjadikannya ikon internet yang tak terduga, penyanyi Chae Yeon akhirnya menceritakan kisah lengkap dari selfie menangis terkenal yang telah menjadi bagian legendaris dari sejarah budaya pop Korea. Ia muncul dalam program kompetisi musik KBS2 yang sudah lama berjalan, Immortal Songs (불후의 명곡) — Episode 755, sebuah edisi khusus yang dipersembahkan untuk komposer ternama Joo Young-hoon — dan membuka diri tentang realita emosional di balik gambar yang telah dirujuk oleh para penggemarnya dan internet sejak saat itu.
Pengakuan yang ditayangkan pada 9 Mei 2026 ini beresonansi bukan hanya karena ceritanya sendiri, tetapi karena kejujurannya tentang tekanan tersembunyi dari ketenaran mendadak — tema yang bergema sedalam hari ini seperti di awal tahun 2000-an ketika Chae Yeon pertama kali menjadi terkenal.
Selfie yang Memulai Sebuah Legenda
Foto tersebut diambil selama tahun-tahun awal Cyworld, jaringan sosial inovatif Korea Selatan yang mendahului platform seperti Facebook dan Instagram hampir satu dekade. Halaman pribadi di Cyworld merupakan bagian inti dari kehidupan digital Korea di awal 2000-an, dan selebriti yang berbagi momen pribadi di sana adalah hal yang baru, intim, dan berpotensi abadi seperti yang segera dipelajari Chae Yeon.
"Aku benar-benar sangat menderita saat itu", kata Chae Yeon kepada MC Kim Jun-hyun dan Lee Chan-won. "Ada keinginan untuk menunjukkan diri — aku masih muda, bagaimanapun juga — tapi aku juga benar-benar, sungguh-sungguh berjuang." Alasan rasa sakitnya, ia jelaskan, mungkin mengejutkan siapa pun yang hanya melihat kemewahan selebriti: keterputusan yang membingungkan dari ketenaran mendadak. "Aku mulai menerima begitu banyak cinta sekaligus, dan aku merasakan keterasingan yang aneh", katanya. "Emosi-emosi itu tidak cocok satu sama lain. Tidak ada jalan keluar untuk apa yang kurasakan."
Solusinya, pada pukul tiga pagi, adalah membuka halaman Cyworld-nya. "Itulah kesalahannya", ia tertawa mengenang. "Membuka Cyworld tengah malam — itulah masalahnya." Duduk sendirian dengan perasaannya, ia mulai menangis. Kemudian, hampir secara impulsif, ia memutuskan untuk memotret dirinya sendiri. "Aku pikir, haruskah aku mengambil foto? Dan kemudian aku hanya terus melakukannya. Aku mengambil sekitar 300 foto sambil menangis." Foto yang akhirnya muncul online — satu bingkai buram, mentah, berlinang air mata dari tiga ratus — menjadi viral dengan cara hal-hal menjadi viral di zaman itu: perlahan, kemudian di mana-mana.
Dari Momen Viral Menjadi Penanda Budaya
Apa yang terjadi selanjutnya adalah sesuatu yang tidak dapat diprediksi oleh Chae Yeon. Foto itu menjadi meme, titik acuan, lelucon berulang dan referensi yang tulus dalam budaya internet Korea. Dua dekade kemudian, MC Lee Chan-won memperkenalkannya di panggung Immortal Songs dengan mengatakan foto itu telah "menghantam seluruh Korea Selatan". Penonton tertawa. Chae Yeon pun tertawa — tetapi kesediaannya untuk berbicara jujur tentang rasa sakit yang menghasilkan gambar tersebut memberikan momen ini sesuatu yang lebih dari sekadar nostalgia.
Gambar ini bertahan dua dekade karena alasan yang melampaui konten emosional spesifiknya. Ia menangkap sesuatu yang nyata tentang menjadi muda, kewalahan, dan mencoba terhubung dengan dunia melalui kamera di tengah malam.
Kebangkitan Y2K dan Generasi Penggemar Baru
Penampilan Chae Yeon di Immortal Songs datang pada saat sang penyanyi sedang mengalami kebangkitan budaya. Ia baru-baru ini meluncurkan saluran YouTube yang berfokus pada konten Y2K — mode, musik, dan sensibilitas dari akhir 1990-an dan awal 2000-an — dan menemukan audiens yang antusias di antara penonton yang lebih muda yang belum lahir ketika selfie menangis itu diambil.
"Orang-orang yang menyukai nostalgia sangat mendukung", kata Chae Yeon kepada MC, "dan generasi MZ yang lebih muda tampaknya benar-benar menikmati melihat ke belakang pada mode dan tren zaman itu. Waktunya terasa tepat." Estetika retro Y2K yang mendorong banyak konten mode dan media sosial hari ini ternyata selaras secara alami dengan dunia visual yang dihuni Chae Yeon pada puncak ketenarannya.
Sebagian dari navigasi itu mengambil bentuk musik baru. Chae Yeon baru-baru ini merilis balada berjudul "난 가끔 눈물을 흘린다 (Kadang Aku Menangis)", yang langsung terinspirasi dari pengalaman emosional di balik selfie terkenal tersebut. Di panggung Immortal Songs, ia menyanyikan sebuah bait dari lagu itu, menawarkan sesuatu yang lebih lengkap dan disengaja daripada impuls malam yang menghasilkan foto asli.
Kekuatan Abadi dari Sebuah Gambar Tak Disengaja
Penampilan Chae Yeon di Immortal Songs — membawakan hit "스톰 (Storm)" untuk edisi khusus Joo Young-hoon — disambut hangat. Namun percakapan terbuka antarlagu itulah yang memberikan episode ini momen-momen paling berkesan. Lee Chan-won, yang dikenal karena kehangatan dengan tamu, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang menggali kejujuran yang jelas-jelas telah dikembangkan Chae Yeon selama dua dekade di hadapan publik.
Artis lain malam itu termasuk Son Seung-yeon, Jo Hyung-kyun, Aiki, Lee Hei, Hyojin Choi, NEXZ, dan D82 — susunan pemain yang beragam yang menempatkan Chae Yeon di antara para veteran dan penampil saat ini.
Selfie menangis itu tidak akan pergi ke mana-mana. Jika ada, kesediaan Chae Yeon untuk meninjaunya kembali dengan kejujuran dan bahkan humor justru memperdalam statusnya dalam budaya pop Korea. Foto itu adalah sebuah kecelakaan. Kisah di baliknya — tentang isolasi, ketenaran mendadak, dan dorongan pukul 3 pagi untuk terhubung dengan dunia melalui kamera — ternyata adalah kisah yang layak diceritakan dengan benar, dua puluh tahun kemudian.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포, AI학습 및 활용 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist focused on Korean music, film, and the global K-Wave. Reports on industry trends, celebrity profiles, and the intersection of Korean pop culture and international audiences.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar