Choi Min-sik Ungkap Rasa Iri di Balik Peran Netflix

Choi Min-sik mengubah lelucon singkat tentang rasa iri menjadi alasan serius untuk menonton drama suspens Korea terbaru Netflix. Dalam konferensi pers di Seoul pada 24 Juni, aktor veteran itu menjelaskan bagaimana rasa tidak aman pribadinya membantu ia memahami Heo Moon-oh, profesor frustrasi yang menjadi pusat The Boy in the Last Row.
Original Netflix enam episode ini dijadwalkan tayang perdana pada 26 Juni pukul 17.00 KST. Bagi penonton drama Korea, serial ini menawarkan kisah psikologis yang padat tentang sastra, obsesi, dan sensasi tidak nyaman saat mengenali bakat orang lain. Untuk penggemar internasional yang mengenal Choi lewat film seperti Oldboy atau karya serial terbarunya, proyek ini menempatkannya dalam peran yang lebih senyap namun berpotensi lebih mengusik: seorang pria yang mengajar menulis, tetapi tidak lagi mampu menghasilkan karya yang dulu ia yakini bisa ia ciptakan.
Pengakuan yang menjelaskan karakter
Dalam presentasi produksi di sebuah hotel di Mapo, Seoul, Choi membahas kelemahan emosional di balik tampilan tajam Heo Moon-oh. Karakter itu adalah profesor sastra Korea sekaligus novelis gagal yang hanya menerbitkan satu novel dua dekade lalu. Di kelas, ia dikenal sebagai pengajar sulit dan mudah tersinggung, tetapi ketenangannya mulai retak setelah membaca tulisan Lee Kang, mahasiswa teknik misterius yang selalu duduk di baris paling belakang.
Alih-alih menampilkan Heo sebagai penjahat sederhana atau stereotip akademisi pahit, Choi menghubungkannya dengan perasaan yang sering disembunyikan banyak orang. Ia mengatakan orang kerap membawa iri, malu, atau rasa rendah diri yang tidak ditunjukkan kepada orang lain, dan versi perasaan itu pada Heo sangat berat. Komentar tersebut memberi acara itu sudut paling manusiawi: Choi tidak menjual karakter sebagai teka-teki, melainkan sebagai seseorang yang dorongan buruknya mungkin terasa akrab bagi penonton.
Di titik itu pula muncul penyebutan tak terduga tentang Elon Musk. Saat ditanya siapa yang membuatnya merasa rendah diri atau iri, Choi menjawab santai bahwa ia penasaran, bahkan sedikit iri, pada perilaku publik CEO Tesla yang tidak biasa dan kehadirannya yang khas. Jawaban itu menarik perhatian karena lucu, tetapi juga cocok dengan tema besar drama: kekaguman bisa menjadi tidak stabil ketika bercampur dengan perbandingan.
Untuk serial tentang profesor yang terpaku pada kecemerlangan seorang mahasiswa, perbedaan itu penting. Heo tidak sekadar melihat bakat Lee Kang; ia mulai mengatur perhatiannya di sekitar bakat itu. Premis ini mengubah hubungan kelas menjadi cerita suspens psikologis, menanyakan apa yang terjadi ketika pengakuan seorang guru terhadap bakat murid bukan lagi soal bimbingan, melainkan harga diri yang terluka.
Tentang apa drama suspens baru Netflix ini
The Boy in the Last Row mengikuti Heo Moon-oh setelah ia menemukan kemampuan menulis Lee Kang yang tidak biasa dan menawarkan pelajaran sastra privat. Lee, diperankan Choi Hyun-wook, digambarkan sebagai mahasiswa dengan kemampuan komposisi luar biasa dan ekspresi yang sulit dibaca. Ia duduk di belakang ruang kuliah, menjaga jarak, dan menjadi pemicu ketertarikan Heo yang kian membesar.
Kisah ini diadaptasi dari drama panggung berjudul sama karya penulis Spanyol Juan Mayorga. Asal-usul teater itu penting karena ceritanya tidak hanya dibangun dari kejadian luar. Ia bergantung pada pergeseran sudut pandang, ketegangan antara guru dan murid, serta pertanyaan tidak nyaman tentang siapa memanfaatkan siapa. Choi mengatakan naskahnya terasa literer dan ia tertarik pada karya yang memberi ruang untuk refleksi, bukan hanya hiburan langsung.
Sutradara Kim Kyu-tae juga menjadi bagian kunci dari daya tarik proyek ini. Penonton Korea mengenal Kim lewat karya yang menelaah kehidupan emosional rumit, termasuk The Trunk dari Netflix, Our Blues dari tvN, dan It's Okay, That's Love dari SBS. Dalam serial baru ini, minat pada tekanan batin itu tampak bergerak ke wilayah suspens, menelusuri bagaimana kekaguman kreatif bisa bergeser menjadi kepemilikan.
Choi menekankan bahwa naskah memberi fondasi yang kuat. Ia mengatakan tulisannya solid, dan membaca naskah dengan teliti sambil membahas keseluruhan karya serta karakter bersama Kim membuat penampilannya berkembang secara alami. Ia juga memuji karisma tenang sang sutradara dalam memandu lokasi syuting, menempatkan peran ini bukan sebagai panggung tunggal, melainkan hasil pembacaan dekat atas teks, karakter, dan nada.
Tanggal rilis 26 Juni memberi serial ini jendela peluncuran yang jelas, hanya dua hari setelah konferensi pers. Dengan enam episode, serial ini diposisikan sebagai drama suspens yang terkonsentrasi, bukan saga mingguan panjang. Format itu dapat membantu menjangkau penonton yang menyukai thriller Korea dengan alur tegas dan konflik pusat yang kuat.
Duet tegang Choi Min-sik dan Choi Hyun-wook
Hubungan paling penting dalam drama ini adalah antara Heo Moon-oh dari Choi Min-sik dan Lee Kang dari Choi Hyun-wook. Di atas kertas, pasangan ini mempertemukan salah satu aktor layar paling dihormati di Korea dengan aktor muda yang perannya menuntut kendali, misteri, dan presisi. Dalam acara pers, Choi Min-sik menegaskan bahwa ia melihat kontras itu lebih dari sekadar fakta casting.
Ia memuji fokus, tatapan, dan detail Choi Hyun-wook sebagai aktor, seraya mengatakan aktor muda itu membuatnya bertanya apakah ia sendiri pernah memiliki konsentrasi seperti itu pada usia yang sama. Pernyataan itu murah hati, tetapi juga menggema dengan hubungan Heo dan Lee Kang. Dalam serial, profesor tertarik pada bakat muridnya; dalam kehidupan nyata, aktor senior secara terbuka mengakui intensitas yang ia lihat di hadapannya.
Paralel itu bisa menjadi salah satu alasan drama ini sampai kepada penonton. Cerita tentang kecemburuan kreatif biasanya paling kuat ketika penonton memahami kedua sisi: rasa tidak aman sosok yang lebih tua dan bahaya memperlakukan bakat orang muda sebagai sesuatu yang bisa dikendalikan. Jika serial ini memanfaatkan ketegangan itu dengan baik, keruntuhan pribadi Heo tidak perlu dilebih-lebihkan. Ia bisa lahir dari menyaksikan Heo mengira pengakuan sebagai kepemilikan.
Karakter Choi Hyun-wook digambarkan sebagai mahasiswa teknik, bukan jurusan sastra, detail yang menambah lapisan pada reaksi Heo. Lee Kang bukan sekadar anak didik yang mengikuti jalur biasa. Bakat menulisnya muncul dari luar dunia sang profesor, membuat penemuan itu lebih mengguncang. Bagi pria yang sudah dihantui karier mandek, bakat seperti itu dapat terasa sebagai provokasi.
Latar belakang profesor mempertajam taruhannya. Heo bukan pemula yang gagal memasuki dunia sastra; ia seseorang yang pernah menerbitkan karya lalu berhenti. Jarak antara pencapaian masa lalu dan kebuntuan masa kini bisa lebih menyakitkan daripada tidak dikenal sama sekali. Komentar Choi menunjukkan ia memainkan Heo sebagai pria yang cukup memahami seni untuk mengenali kecemerlangan, dan cukup memahami dirinya sendiri untuk membencinya.
Mengapa peran ini cocok untuk Choi sekarang
Choi juga menolak gagasan bahwa akting adalah kompetisi. Meski liputan hiburan sering membingkai proyek besar sebagai adu akting, ia mengatakan para pemeran tidak saling bertarung dan setiap aktor harus mengikuti jalannya sendiri. Filosofi itu memberi konteks tambahan pada pujiannya untuk Choi Hyun-wook. Ia bisa mengagumi aktor muda tanpa mengubah pekerjaan menjadi rivalitas, meski memainkan karakter yang kesulitan melakukan hal yang sama.
Deskripsinya tentang peran ini juga menunjukkan penampilan yang dibangun dari pemeriksaan diri, bukan jarak. Choi tidak mengaku berdiri di luar kelemahan Heo. Sebaliknya, ia mengakui bahwa ia juga memiliki sisi kumuh atau remeh, dan banyak orang memahami ketidaknyamanan pribadi saat membandingkan diri. Untuk drama suspens, itu bisa lebih efektif daripada tafsir yang hanya mengancam. Rasa takut muncul dari betapa biasa dorongan itu sebelum berubah destruktif.
Karena itu, jawaban ringan Choi tentang Elon Musk menjadi lebih dari sekadar kalimat viral. Itu menunjukkan sang aktor menempatkan masalah Heo dalam refleks manusia yang mudah dikenali: melihat orang lain dan bertanya mengapa mereka tampak lebih bebas, lebih aneh, lebih berbakat, atau lebih kuat. Dalam kasus Heo, refleks itu diarahkan kepada seorang mahasiswa yang tulisannya membuka luka yang sudah bertahun-tahun ia tutupi.
Saat The Boy in the Last Row tayang di Netflix pada 26 Juni, daya tariknya bukan hanya nama Choi Min-sik atau asal adaptasinya dari panggung. Daya tariknya adalah kesempatan melihat aktor besar mengubah salah satu perasaan paling biasa, iri, menjadi mesin cerita suspens tentang seni, harga diri, dan kebutuhan berbahaya untuk memiliki bakat orang lain.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist specializing in K-Pop, K-Drama, and Korean celebrity news. Covers artist comebacks, drama premieres, award shows, and fan culture with in-depth reporting and analysis.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar