Dari Penghargaan Nobel hingga 3,58 Juta Salinan: Bagaimana K-Literature Menaklukkan Dunia

Sastra Korea baru saja melampaui tonggak sejarah yang signifikan: 3,58 juta eksemplar terjual di luar negeri dalam lima tahun, dengan penjualan global tahunan yang stabil di angka sekitar 1,2 juta eksemplar selama dua tahun berturut-turut. Data baru yang dirilis oleh Literature Translation Institute of Korea (LTI Korea) mengonfirmasi bahwa minat dunia terhadap fiksi Korea telah tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berkelanjutan daripada sekadar lonjakan akibat Penghargaan Nobel.
Angka-angka tersebut mencakup 1.026 judul yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2025 dengan dukungan dari LTI Korea, yang menjangkau 40 wilayah bahasa. Dibandingkan dengan total kumulatif lima tahun sebelumnya sebesar 2,68 juta eksemplar, hal ini menunjukkan penambahan 900.000 pembaca baru — dan tren ini terus mengalami percepatan.
"We Do Not Part" karya Han Kang Memimpin di Setiap Peringkat
Tidak ada judul yang mendominasi era emas sastra Korea ini seperti "We Do Not Part" (작별하지 않는다) karya Han Kang, sebuah novel yang berakar pada trauma Insiden 3 April Jeju. Dari tahun 2023 hingga 2025, buku tersebut terjual sekitar 300.000 eksemplar di 13 negara — total penjualan kumulatif tertinggi untuk judul apa pun dalam survei tersebut.
Penyebaran geografisnya sama menentukannya dengan angka-angka tersebut. Britania Raya dan Prancis masing-masing mencatat penjualan sekitar 60.000 salinan. Turki, yang telah muncul sebagai salah satu pasar paling antusias untuk fiksi Korea, menyumbang 40.000 salinan. Jepang, Polandia, dan Italia masing-masing menjual sekitar 30.000 salinan. Taiwan dan Brasil keduanya melampaui angka 10.000 salinan — mencerminkan basis pembaca yang kini membentang dari Asia Timur hingga Amerika Selatan dan Eropa Timur.
Analisis LTI Korea menunjukkan bahwa baik terjemahan baru maupun edisi yang telah diterbitkan sebelumnya dari karya Han Kang terus menarik pembaca di berbagai wilayah bahasa secara bersamaan. Momentum multi-pasar yang simultan ini menunjukkan bahwa Penghargaan Nobel yang dianugerahkan kepadanya pada Oktober 2024 tidak sekadar menciptakan lonjakan singkat, melainkan membuka audiens global jangka panjang yang terus memperbarui dirinya sendiri.
Han Kang baru-baru ini terlihat di Festival Avignon di Prancis pada 12 Juli, berinteraksi dengan audiens dalam acara "Talk with the Author" — sebuah sinyal nyata bahwa kehadiran literasi internasionalnya terus meluas jauh melampaui sirkuit penghargaan.
Melampaui Satu Penulis: Gelombang yang Lebih Luas Mulai Terbentuk
Apa yang membuat laporan tahun 2025 ini sangat mencolok adalah seberapa besar pertumbuhan tersebut terjadi di luar katalog Han Kang. Data menunjukkan bahwa sastra Korea tidak lagi bergantung pada satu bintang atau satu genre saja, dan bahwa berbagai macam gaya serta suara kini beresonansi secara global.
Karya Hwang Bo-reum, "Welcome to the Hyunam-dong Bookshop" (어서 오세요, 휴남동 서점입니다) — sebuah novel introspektif yang hangat tentang seorang wanita yang membuka toko buku lingkungan sebagai bentuk penyembuhan diri — telah terjual sekitar 88.000 eksemplar dalam enam edisi bahasa. Terjemahan bahasa Turki saja telah terjual hampir 70.000 eksemplar pada tahun 2025, dengan akumulasi penjualan di Turki melampaui 160.000 eksemplar sejak publikasi lokal pada tahun 2023. Novel Kim Ho-yeon, "Convenience Store by Night" (불편한 편의점), sebuah kisah urban yang serupa dengan nuansa menenangkan, telah terjual sekitar 66.000 eksemplar dalam sembilan bahasa.
Novel debut Yoo Young-gwang, "A Shop That Opens When It Rains" (비가 오면 열리는 상점), telah terjual sekitar 16.000 eksemplar hanya dalam dua tahun sejak publikasi bahasa Inggrisnya — sebuah awal yang sangat cepat bagi penulis pemula yang memasuki pasar global.
Indikator institusional juga menunjukkan pergerakan ke arah yang positif. Jumlah judul yang terjual lebih dari 5.000 eksemplar dalam satu tahun telah meningkat menjadi 50 judul, naik lima judul dari survei sebelumnya. Di antara jumlah tersebut, 28 judul telah melampaui ambang batas 10.000 eksemplar — empat judul lebih banyak dibandingkan tahun 2024. Tujuh judul kini telah terjual setidaknya 4.000 eksemplar per tahun selama tiga tahun berturut-turut, menandakan bahwa sekelompok karya Korea mulai menjadi karya yang benar-benar abadi di pasar internasional, alih-alih memudar setelah lonjakan awal.
Ketertarikan Tak Terduga Turki Terhadap Fiksi Korea
Di antara semua kejutan geografis dalam data tahun ini, Turki tampil menonjol. Negara tersebut kini menjadi salah satu pasar yang paling dinamis dan tumbuh paling cepat untuk literatur Korea, di mana fiksi sastra maupun cerita bertema kenyamanan (*comfort-driven stories*) menunjukkan performa skala besar secara bersamaan.
Edisi Turki dari "Welcome to the Hyunam-dong Bookshop" menjadi terjemahan bahasa Korea terlaris tunggal pada tahun 2025, sementara karya Han Kang juga mempertahankan angka penjualan yang kuat di Turki. Peneliti LTI Korea memandang keberhasilan ganda ini sebagai indikator kedalaman pasar yang bermakna, alih-alih sekadar minat sempit pada gaya tertentu.
"Fakta bahwa kedua karya tersebut — yang memiliki sifat berbeda — menunjukkan performa kuat di Turki mengisyaratkan bahwa daya tarik global literatur Korea tidak hanya berpusat pada satu genre atau tren tunggal," catat LTI Korea dalam penilaiannya. "Satu kelompok pembaca merespons bobot sejarah dan kedalaman sastra; kelompok lain mencari kenyamanan dan komunitas. Keduanya menemukan apa yang mereka inginkan dalam fiksi Korea."
Turki bergabung dengan pasar literatur Korea yang telah mapan seperti Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, dan Polandia sebagai negara di mana penerbit kini berinvestasi secara konsisten pada judul-judul Korea — sebuah pergeseran struktural yang menguntungkan penulis Korea, baik yang baru muncul maupun yang sudah mapan.
Memperluas Diversitas Genre dan Pasar Baru
Di luar fiksi prosa, data tersebut mengungkapkan pertumbuhan yang sehat di bidang-bidang terkait. Novel grafis karya Kim Geum-suk yang berjudul "Grass" (풀), sebuah narasi berbasis kesaksian yang mendokumentasikan pengalaman para penyintas wanita penghibur Korea selama Perang Dunia II, telah terjual lebih dari 60.000 eksemplar secara kumulatif di Spanyol, dengan lebih dari 10.000 eksemplar terjual pada tahun 2025 saja. Keberhasilan berkelanjutan judul tersebut dalam bahasa Spanyol menunjukkan bahwa karya grafis sastra dapat membangun pembaca jangka panjang di pasar tempat novel sastra Korea juga telah berakar.
Pasar berbahasa Mandarin juga mencatatkan hasil yang signifikan. Karya penulis Jung Ji-ah yang berjudul "My Father's Liberation Day" (아버지의 해방일지), yang diterbitkan dalam bahasa Mandarin pada tahun 2024, terjual hampir 20.000 eksemplar dalam tahun pertamanya — sebuah debut kuat yang menambah bukti bahwa fiksi sastra Korea tengah melakukan diversifikasi melampaui basis kekuatannya yang asli.
Katalog lama milik Han Kang sendiri terus menghasilkan penjualan yang signifikan di luar "We Do Not Part." Karya "Greek Lessons" (희랍어 시간) dalam bahasa Inggris termasuk di antara 28 judul yang melampaui penjualan 10.000 eksemplar pada tahun 2025, yang semakin memperkuat statusnya sebagai penulis sastra Korea tunggal yang paling banyak dibaca secara global di era ini.
Apa yang Mendorong Pertumbuhan Berkelanjutan
Narasi struktural di balik angka-angka ini melibatkan dukungan institusional sekaligus momentum budaya. LTI Korea telah lama beroperasi sebagai mesin di balik layar bagi ekspansi global sastra Korea — mengidentifikasi judul-judul yang menjanjikan, mendanai biaya penerjemahan, mendukung ekspor hak cipta, serta memfasilitasi hubungan antara penerbit Korea dengan mitra luar negeri mereka.
Pada tahun 2026, organisasi tersebut meluncurkan "K-Literature Global Package Support Program" baru yang dirancang untuk mencakup seluruh perjalanan internasional sebuah judul karya Korea: mulai dari ekspor hak cipta melalui penerjemahan, penerbitan, promosi, hingga penerimaan kritis. Tujuannya adalah untuk membangun pendekatan yang lebih kohesif dan berjangka panjang terhadap pengembangan pasar luar negeri, alih-alih hanya mengandalkan peluang yang bersifat ad-hoc.
Presiden LTI Korea, Jeon Su-yong, membingkai data tersebut dalam istilah struktural yang eksplisit. "Mempertahankan penjualan luar negeri sebanyak 1,2 juta eksemplar selama dua tahun berturut-turut, dan melampaui 1.000 publikasi yang didukung selama lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa penyebaran internasional sastra Korea bukanlah fenomena sesaat," ujarnya. "Hal ini terjadi di atas fondasi pembaca yang berkelanjutan, dan kami akan terus memperkuat dukungan penerjemahan serta penerbitan strategis agar lebih banyak karya sastra Korea yang beragam dapat menjumpai pembaca di seluruh dunia."
Perbandingan dengan K-pop dan K-drama sulit untuk dihindari. Kedua ekspor budaya tersebut mengikuti alur yang serupa — sebuah momen terobosan (lagu hit, drama viral) yang menciptakan minat global awal, yang kemudian diikuti oleh periode konsolidasi di mana luas dan keragaman ekosistemnya tumbuh untuk mendukung sesuatu yang bertahan lama. Sastra Korea kini tampak memasuki fase konsolidasi tersebut, dengan Penghargaan Nobel memainkan peran yang sama seperti yang dimainkan oleh "Gangnam Style" atau "Squid Game" bagi bagian lain dari budaya Korea.
Tonggak sejarah berikutnya yang patut diperhatikan adalah apakah generasi penulis Korea saat ini — Hwang Bo-reum, Cheon Seon-ran, Kim Geum-suk, dan lainnya — dapat mereplikasi jenis daya tahan internasional yang telah ditunjukkan oleh Han Kang. Berdasarkan ke mana angka-angka tersebut mengarah, jawabannya tampaknya adalah ya.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist focused on Korean music, film, and the global K-Wave. Reports on industry trends, celebrity profiles, and the intersection of Korean pop culture and international audiences.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar