Kenangan Haru Kim Tae-won tentang Boohwal Menggerakkan Penggemar

|7 menit baca0
Kenangan Haru Kim Tae-won tentang Boohwal Menggerakkan Penggemar

Kim Tae-won mengubah sebuah panggung tribut televisi menjadi salah satu kisah K-rock paling emosional pekan ini. Dalam Immortal Songs KBS2, pemimpin Boohwal itu mengenang mendiang vokalis Kim Jae-ki ketika anggota N.Flying, Lee Seung-hyub dan Yoo Hwe-seung, membawakan lagu klasik band tersebut, "The More I Love".

Momen itu terasa penting karena lagu tersebut bukan sekadar balada terkenal lain dalam katalog Boohwal. Lagu ini terkait dengan titik balik dalam sejarah band, seorang penyanyi muda yang suaranya ikut menentukan album ketiga mereka, dan kehilangan yang hingga kini masih disebut Kim Tae-won sebagai salah satu luka terdalam dalam hidupnya.

Lagu klasik kembali dengan sejarah yang berat

Episode Immortal Songs pada 11 Juli berpusat pada Kim Tae-won, gitaris, penulis lagu, sekaligus satu-satunya anggota asli yang paling lekat dengan perjalanan empat dekade Boohwal. Siaran itu mempertemukan penyanyi muda dan veteran untuk menafsirkan ulang lagu-lagu yang terhubung dengan kariernya, termasuk karya yang sudah menjadi bagian dari memori rock dan pop Korea.

Di antara berbagai penampilan, Lee Seung-hyub dan Yoo Hwe-seung memilih "The More I Love", lagu dari album ketiga Boohwal. Pilihan itu langsung membawa bobot tambahan. Kim Jae-ki, yang mengikuti Kim Jong-seo dan Lee Seung-chul sebagai salah satu vokalis utama awal Boohwal, merekam lagu tersebut sebelum meninggal mendadak dalam kecelakaan lalu lintas pada 1993.

Laporan Korea tentang episode itu menyebut Kim Jae-ki sedang merekam lagu tersebut ketika tragedi terjadi. Album ketiga, yang memuat rekaman sementaranya, kemudian menjadi album terlaris Boohwal dan mengubah satu bab pribadi yang belum selesai menjadi salah satu memori publik paling bertahan dalam sejarah band.

Latar itu membuat penampilan N.Flying terasa bukan seperti cover biasa, melainkan seperti penyerahan ingatan antar generasi. Lee Seung-hyub dan Yoo Hwe-seung harus menyanyikan lagu yang bagi banyak pendengar Korea sudah identik dengan duka, kerinduan, dan rapuhnya waktu dalam ketenaran. Versi mereka akhirnya memenangi episode tersebut dengan 421 suara, menurut liputan Korea, tetapi pusat emosi malam itu adalah reaksi Kim Tae-won.

Kenangan Kim Tae-won tentang Kim Jae-ki

Setelah menyaksikan panggung itu, Kim Tae-won menjelaskan bahwa "The More I Love" tetap menjadi lagu Boohwal yang paling kuat ia rasakan keterikatannya. Ia menelusuri perasaan itu kembali ke 1991, ketika Boohwal sedang berjuang setelah masa sulit dan Kim Jae-ki masuk ke hidupnya pada saat yang tepat.

Kim mengenang dirinya begitu terpukul saat pertama kali mendengar Kim Jae-ki bernyanyi. Ia tidak hanya menggambarkan Kim Jae-ki sebagai vokalis yang kuat secara teknik, tetapi mengingat daya suara itu sebagai sesuatu yang hampir fisik, jenis nyanyian yang dapat membuat sebuah ruangan terasa bergeser. Bagi band yang sedang berusaha menemukan arah lagi, suara itu terdengar seperti kemungkinan baru.

Kim Tae-won mengenang Kim Jae-ki sebagai penyanyi yang suaranya mengembalikan harapan kepada Boohwal ketika band itu sedang mencari jalan ke depan.

Ia juga membagikan kenangan pribadi yang menjelaskan mengapa mendiang vokalis itu masih menempati ruang besar dalam pikirannya. Menurut Kim Tae-won, Kim Jae-ki pernah berkata bahwa ia akan membantu memulihkan kehormatan Kim Tae-won jika Kim Tae-won membantunya keluar dari kemiskinan. Kalimat itu tidak terdengar seperti slogan dramatis di program tersebut, melainkan sebagai sekilas gambaran tentang seniman muda yang memahami ambisi sekaligus kesulitan.

Bagi pembaca internasional yang mungkin mengenal K-pop lebih dulu daripada rock Korea, Boohwal memiliki posisi berbeda tetapi penting dalam sejarah musik Korea. Dibentuk pada pertengahan 1980-an, band ini ikut membentuk rock ballad Korea lewat lagu seperti "Heeya", "Rain and Your Story", "Never Ending Story", dan "The More I Love". Musik mereka sering memadukan instrumentasi rock dengan emosi langsung yang masih segera dikenali pendengar Korea.

Warisan itu juga membuat duka Kim Tae-won lebih dari sekadar ingatan pribadi. Masa singkat Kim Jae-ki bersama Boohwal menjadi bagian dari mitologi band, salah satu momen yang kerap dirujuk penggemar ketika menjelaskan mengapa lagu-lagu grup itu membawa begitu banyak kesedihan. Dalam episode tersebut, Kim Tae-won mengatakan kehilangan itu membuatnya merasa seperti gagal sebagai pemimpin, dan hidup bahkan satu hari lagi setelah kematian temannya terasa menyakitkan.

Mengapa panggung N.Flying begitu mengena

Lee Seung-hyub dan Yoo Hwe-seung menghadapi tugas yang sulit. Penampilan yang terlalu setia berisiko terdengar terlalu hati-hati, sementara remake yang terlalu dramatis bisa terasa tidak menghormati lagu yang sudah ditandai tragedi. Mereka mengatakan dalam program itu bahwa mereka ingin merasakan jiwa di dalam lagu dan menjaga penyampaian tetap bersih, tetapi mereka juga memahami bahwa intensitas yang terlalu kecil akan membuatnya datar secara emosional.

Respons Kim Tae-won menunjukkan bahwa keseimbangan itu berhasil. Ia memuji bagian akhir penampilan mereka dengan kata-kata yang luas, mengatakan bahwa lagu itu terasa menyebar ke ruang yang lebih besar, hampir kosmis. Reaksinya memberi makna akhir pada panggung tersebut: ini bukan hanya nomor kompetisi, melainkan kesempatan bagi seorang penulis lagu yang masih hidup untuk mendengar artis muda memikul ingatan yang telah ia jaga selama puluhan tahun.

Kemenangan itu juga sesuai dengan identitas N.Flying. Band ini sering bergerak di antara visibilitas idol band dan kredibilitas live band, dengan Lee Seung-hyub dan Yoo Hwe-seung dikenal karena kekuatan vokal sekaligus musikalitas. Membawakan lagu Boohwal di depan Kim Tae-won menuntut lebih dari jangkauan nada. Itu membutuhkan penilaian emosional, terutama karena kisah lagu tersebut dijelaskan kepada penonton dalam episode yang sama.

Bagi Immortal Songs, inilah kekuatan formatnya. Program musik KBS yang sudah berjalan lama itu tidak sekadar meminta penyanyi membawakan ulang hit lama. Pada momen terbaiknya, program ini menaruh sejarah sebuah lagu di hadapan audiens baru dan membiarkan artis asli, penyanyi cover, serta penonton duduk bersama jarak antara masa lalu dan masa kini.

Tahun ke-40 Boohwal menambah lapisan lain

Waktu kemunculan momen ini juga memperdalam cerita. Boohwal sedang menandai periode ulang tahun ke-40 setelah merilis proyek album studio ke-14, karya studio penuh pertama band itu dalam 14 tahun. Wawancara Korea awal tahun ini membingkai album tersebut sebagai refleksi tentang kemurnian, bertahan hidup, dan pertanyaan tentang di mana posisi band setelah puluhan tahun perubahan formasi, kehilangan pribadi, dan pergeseran pasar musik.

Kim Tae-won tetap menjadi sosok konstan melalui semua perubahan itu. Boohwal telah memiliki daftar panjang vokalis selama bertahun-tahun, termasuk Lee Seung-chul, Kim Jae-ki, Kim Jae-hee, Park Wan-kyu, Jung Dong-ha, dan lainnya. Sejarah yang terus berganti itu dapat membuat band ini sulit diikuti penggemar internasional baru, tetapi juga menjadi alasan lagu-lagunya terasa begitu terikat pada suara dan periode tertentu.

Masa Kim Jae-ki memang singkat, tetapi meninggalkan salah satu jejak emosional terkuat. "The More I Love" menjadi lagu khas bukan karena alur karier yang selesai rapi, melainkan karena rekaman itu menyimpan suara yang hampir tidak punya waktu untuk menua di hadapan publik. Karena itu, setiap penafsiran besar atas lagu ini membawa pertanyaan: bagaimana penyanyi muda menghormati penampilan yang sejak awal sudah dihantui ketidakhadiran?

Dalam episode ini, jawabannya hadir lewat pengendalian diri, konteks, dan kesediaan Kim Tae-won berbicara terus terang tentang ingatan. Ia tidak mengubah cerita itu menjadi kisah sederhana tentang kemenangan setelah tragedi. Sebaliknya, ia membiarkan penonton mendengar bagaimana kekaguman, rasa bersalah, duka, dan kebanggaan dapat tetap bercampur bahkan setelah lebih dari tiga dekade.

Apa yang terjadi berikutnya

Hasil langsungnya adalah perhatian baru pada katalog Boohwal dan lini vokal N.Flying. Penonton yang menemukan kisah ini melalui Immortal Songs kemungkinan akan kembali mendengarkan versi asli "The More I Love", sementara penggemar Lee Seung-hyub dan Yoo Hwe-seung dapat menunjuk kemenangan 421 suara itu sebagai contoh lain kekuatan penampilan live band tersebut.

Bagi Kim Tae-won, makna yang lebih besar adalah kesinambungan. Lagu-lagu Boohwal bertahan karena dapat bergerak melintasi era tanpa kehilangan rasa sakitnya. Ketika artis muda membawakannya dengan baik, mereka melakukan lebih dari sekadar meng-cover hit lama; mereka menjaga satu bab rumit sejarah musik Korea tetap terdengar bagi pendengar yang tidak berada di sana ketika semuanya terjadi.

Itulah sebabnya panggung Immortal Songs ini bergema melampaui hasil kompetisi mingguan. Panggung itu mempertemukan lagu terkenal, vokalis yang telah tiada, pemimpin band veteran, dan generasi performer baru dalam satu bingkai. Selama beberapa menit, sejarah rock Korea tidak terasa seperti arsip. Ia terasa hadir, rapuh, dan masih mampu membuka emosi satu ruangan.

Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?

저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Seung Jung
Seung Jung

Senior Entertainment Correspondent · KEnterHub

Senior entertainment correspondent with a wide-angle view of Korean show business. Seung Jung covers celebrity news, variety television and award season, and writes the interviews and features that connect individual stories to the larger currents of Korean entertainment.

Celebrity NewsVariety ShowsAward ShowsInterviewsKorean Entertainment Industry

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar

Memuat...

Diskusi

Memuat...

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait