LUCY Kembali ke Jepang Setelah 2 Tahun — Penggemar Menyanyikan Setiap Lirik dengan Hafal

|6 menit baca0
LUCY Kembali ke Jepang Setelah 2 Tahun — Penggemar Menyanyikan Setiap Lirik dengan Hafal

Dua tahun terasa seperti waktu yang sangat lama dalam dunia LUCY — dan para penggemar Jepang mereka memastikan bahwa grup tersebut mengetahui betapa besar kerinduan yang mereka rasakan. Pada 24 Juli 2026, LUCY kembali ke KT Zepp Yokohama untuk konser solo kesembilan mereka, '2026 LUCY 9TH CONCERT ISLAND', dan kerumunan penonton memberikan sesuatu yang tidak disangka oleh keempat anggotanya: gelombang lirik bahasa Korea yang dinyanyikan kembali kepada mereka dalam harmoni yang sempurna, nada demi nada, baris demi baris.

Bagi sebuah grup yang telah menghabiskan waktu berbulan-bulan terpisah — anggota termuda Shin Kwang-il telah menjalani wajib militer sebelum mereka dapat kembali ke panggung ini — malam tersebut membawa beban yang melampaui sekadar musik. Yokohama bukan sekadar pemberhentian tur lainnya. Ini adalah kota di mana mereka pernah berdiri bersama sebagai grup yang lengkap untuk terakhir kalinya sebelum masa wajib militer mengubah jadwal mereka. Kembali ke sini, dalam keadaan utuh kembali, berarti segalanya.

Panggung yang Pernah Mengucapkan Selamat Tinggal, Kini Mengucapkan Selamat Datang Kembali

LUCY — yang terdiri dari Shin Ye-chan, Choi Sang-yeop, Jo Won-sang, dan Shin Kwang-il — membuka pertunjukan di Yokohama dengan "Balah" (발아), sebuah lagu dari album studio kedua mereka 'Childish', sebelum melanjutkan rangkaian lagu yang terasa dirancang untuk menyentuh emosi secara bertahap. "Gaehwa (Flowering)," "Hero," "Ddeugeoh," dan "Villain" menyusul dalam suksesi yang cepat, membangun jenis energi yang memenuhi tempat pertunjukan tidak hanya dengan suara, tetapi juga dengan perasaan yang dibagikan bersama.

Nama konser tersebut, ISLAND, membawa makna yang berlapis: "Kelopak bunga yang bertebaran tertiup kembali ke pulau, mewarnai kita dengan cahaya." Ini adalah sebuah frasa yang merujuk kembali ke LUCY ISLAND, konsep yang menjadi jangkar pada masa-masa awal grup tersebut, sekaligus merujuk ke depan pada gagasan bahwa sejauh apa pun para anggota atau penggemar mungkin terpisah, selalu ada tempat untuk kembali. Setelah dua tahun, metafora tersebut terasa jauh lebih mendalam.

Pada saat daftar lagu mencapai "Nori," "Love, By the Way," lagu utama dari album tersebut "For All Ages" (전체관람가), "Goblin Dance," dan karya epik "The Undying Knight and the Silken Cradle," kerumunan penonton tidak lagi sekadar menonton. Mereka telah menyatu di dalam musik, saling bertukar energi dengan panggung alih-alih hanya menerimanya.

Sebuah Cover Yuuri yang Menghentikan Suasana Ruangan

Salah satu momen paling tajam malam itu terjadi di tengah konser, ketika LUCY mengungkap kejutan berupa lagu cover "BETELGEUSE" milik penyanyi Jepang, Yuuri — sebuah lagu yang sangat dicintai oleh penonton setempat. Aransemen LUCY tetap menjaga inti emosional dari lagu aslinya tetap utuh sembari memprosesnya melalui suara band mereka sendiri: lebih penuh, lebih hangat, dan sedikit lebih mendesak di setiap sisinya. Bagi penggemar Jepang yang mengenal kedua artis tersebut dengan baik, mendengar grup yang mereka cintai membayangkan kembali lagu dari artis lain yang juga mereka cintai menciptakan semacam resonansi ganda yang membuat kerumunan penonton bersorak histeris.

Ini adalah pilihan yang terhitung dengan matang, dan terbukti berhasil. LUCY sebelumnya telah menarik reaksi luar biasa melalui lagu-lagu cover lokal di Taipei, dan pemilihan Yokohama menunjukkan bahwa grup ini memahami audiens Jepang mereka secara spesifik — bukan sekadar sebagai pasar luar negeri yang umum, melainkan sebagai individu dengan sejarah pendengaran dan titik emosional mereka sendiri.

Encore yang Menjadi Empat Hadiah Terpisah

Encore resmi membawakan "Nakwha" (낙화) dan "Flare," dua lagu yang terus terngiang lama setelah nada terakhirnya berakhir. Namun, penonton belum siap untuk melepaskannya, begitu pula para anggota. Apa yang terjadi selanjutnya adalah rangkaian momen a cappella individu tanpa naskah yang berubah menjadi salah satu bagian yang paling banyak dibicarakan dalam tur ini.

Shin Ye-chan mengambil gitarnya dan memainkan "Little Star" milik Standing Egg secara tenang dan tanpa perayaan berlebih. Jo Won-sang menyanyikan "Porch Light (Feat. Namje-hyeon)." Shin Kwang-il membawakan "Gugu Jeol Jeol" secara a cappella, suaranya memenuhi ruangan tanpa dukungan produksi apa pun. Choi Sang-yeop menutupnya dengan "Jageunbyeol" — sebuah bintang kecil, tanpa iringan, hanya sebuah suara dan 3.000 orang yang mendengarkan.

Keputusan untuk memberikan momen solo bagi setiap anggota dalam encore mencerminkan sesuatu yang telah lama dipahami LUCY tentang budaya penggemar: bahwa orang sering kali mencintai sebuah grup karena individu-individu di dalamnya, dan menghormati hal tersebut secara individual — bukan hanya sebagai satu kesatuan — mengubah sebuah konser menjadi sesuatu yang bersifat personal.

Ketika Penggemar Menjadi Bagian dari Pertunjukan

Sepanjang malam, penonton di Jepang menunjukkan dengan jelas bahwa koneksi mereka dengan musik LUCY bukanlah hal yang biasa. Para penggemar telah menyiapkan acara slogan kejutan — papan cahaya terkoordinasi yang tidak diketahui oleh para anggota — dan ketika LUCY membawakan katalog lagu berbahasa Korea mereka, kerumunan penonton ikut bernyanyi dalam bahasa Korea, kata demi kata, dengan kepercayaan diri dan presisi yang cukup tinggi sehingga terlihat menyentuh hati semua orang di atas panggung.

Setelah itu, para anggota menyapa kerumunan dengan kata-kata yang tampak mengejutkan diri mereka sendiri karena betapa pentingnya hal tersebut untuk diucapkan. "Kami sangat senang bisa tampil di sini lagi — di tempat yang sama di mana Kwang-il mengadakan pertunjukan grup lengkap terakhirnya sebelum wajib militer," ungkap para anggota. "Kalian menghafal setiap lirik bahasa Korea dan datang dengan kesiapan untuk menyanyikannya bersama kami. Itu sangat berarti, dan memberi kami kekuatan yang nyata. Kami akan terus bekerja keras, dan kami berharap dapat menikmati malam seperti ini bersama kalian lagi."

Itu adalah salah satu pernyataan penutup konser yang tidak terasa seperti sekadar formalitas. Masa wajib militer Shin Kwang-il sempat menghentikan momentum grup tersebut, dan kembali ke Jepang dengan formasi lengkap yang utuh — tampil di tempat yang sama persis di mana mereka mengadakan pertunjukan lengkap terakhir mereka — memberikan kesan siklus yang dirasakan oleh penggemar maupun anggota pada saat yang bersamaan.

Japan Popup Store: Tower Records Shibuya

Konser tersebut bukan satu-satunya titik kontak antara LUCY dan basis penggemar Jepang mereka selama perjalanan ini. Secara bersamaan, band tersebut mengadakan toko pop-up pertama mereka di Jepang, yang didirikan di ruang utama lantai dasar Tower Records Shibuya — toko rekaman terbesar di Jepang dan salah satu institusi musik paling bersejarah di negara tersebut. Toko tersebut dibuka di hadapan kerumunan yang langsung berdatangan, memenuhi seluruh ruangan sejak jam pertama.

Pop-up tersebut merayakan perilisan Childish, dengan berbagai aktivasi acara yang memperluas album tersebut menjadi sebuah pengalaman fisik bagi penggemar. Bagi para pengikut yang telah menantikan LUCY untuk menunjukkan kehadiran yang lebih nyata di Jepang, kemitraan dengan Tower Records terasa seperti pernyataan niat yang tulus — bukan sekadar acara pendukung, melainkan acara utama.

Apa yang Dibuktikan oleh Tur ISLAND

Dengan Yokohama, LUCY telah menyelesaikan tahap terakhir dari tur ISLAND mereka, yang sebelumnya telah membawa mereka melalui Seoul, Taipei, dan Daegu. Empat kota di Asia, sembilan konser dalam karier mereka, dan band ini terus membuktikan bahwa ranah K-indie rock — yang sering kali dibayangi oleh besarnya volume pop idola global — memiliki audiens internasionalnya sendiri yang sangat setia.

Pertunjukan di Yokohama secara khusus membuktikan bahwa keunggulan utama LUCY bukanlah pada kemegahan visual atau koreografi, melainkan pada kehadiran mereka: sebuah perasaan bahwa setiap orang di dalam ruangan tersebut sedang mengalami sesuatu yang bermakna, bukan sekadar menonton sebuah pertunjukan. Ketika para penggemar di Jepang menyanyikan kembali lirik bahasa Korea kepada grup Korea di sebuah tempat yang dulunya menjadi lokasi perpisahan yang tak terduga, kehadiran tersebut menjadi sesuatu yang lebih sulit didefinisikan namun lebih mudah untuk dirasakan.

LUCY kini telah memiliki sembilan konser solo di belakang mereka. Berdasarkan apa yang terjadi di KT Zepp Yokohama, konser kesepuluh mereka tidak akan sulit untuk dipenuhi.

Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?

저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Jang Hojin
Jang Hojin

Entertainment Journalist · KEnterHub

Entertainment journalist specializing in K-Pop, K-Drama, and Korean celebrity news. Covers artist comebacks, drama premieres, award shows, and fan culture with in-depth reporting and analysis.

K-PopK-DramaK-MovieKorean CelebritiesAward Shows

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar

Memuat...

Diskusi

Memuat...

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait