Pencarian 25 Tahun Takuya untuk Ayahnya Membuat Korea Menangis
Penyiar kelahiran Jepang ini pergi ke Hokkaido untuk menemukan pria yang hilang dari hidupnya 25 tahun lalu

Takuya, penyiar dan aktor kelahiran Jepang yang telah membangun kehidupan dan kariernya di Korea Selatan, sedang menjalankan misi yang tidak bisa dipersiapkan oleh naskah manapun — menemukan ayah biologis yang kehilangan kontak 25 tahun lalu. Perjalanan emosional ini berlangsung di program variety KBS 2TV yang sudah lama berjalan, Living Men Season 2 (살림하는 남자들 시즌2), telah menyentuh hati penonton di seluruh negeri dan membanjiri media sosial dengan dukungan, kisah yang dibagikan, dan tidak sedikit air mata.
Dalam episode yang tayang Sabtu, 28 Maret 2026, Takuya menaiki pesawat ke Hokkaido, Jepang, hanya berbekal selembar foto, nama ayahnya, perkiraan usia, dan nama sebuah kampung halaman. Bagi Takuya yang telah menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di Korea untuk membangun karier televisi, perjalanan ini jauh lebih dari sekadar segmen program variety: ini adalah pertarungan dengan ketidakhadiran yang telah ia bawa diam-diam selama sebagian besar hidupnya.
Penemuan yang Mengubah Segalanya
Beberapa minggu sebelum episode ini ditayangkan, Takuya memiliki percakapan dengan ibunya yang membalikkan semua yang ia pikir telah ia ketahui tentang masa lalunya. Untuk pertama kalinya, sang ibu berbagi detail tentang ayah biologisnya — informasi yang telah disimpan secara pribadi selama beberapa dekade. Pengungkapan itu begitu mengejutkan hingga Takuya menghubungi tim produksi Living Men dengan pesan mendesak dan langsung meminta bantuan mereka untuk memungkinkan perjalanan ke Jepang.
Keputusan tim produksi untuk mendukung dan mendokumentasikan perjalanan itu menunjukkan betapa seriusnya kedua belah pihak mengambil beban emosional dari upaya tersebut. Ini bukan segmen variety yang dikoreografi. Ini adalah seorang pria meminta kru kamera membantunya menemukan ayahnya.
Sebelum percakapan dengan ibunya, Takuya hampir tidak punya pegangan. Selama malam yang jujur bersama kakaknya, ia mengakui betapa banyak yang telah pudar dari ingatan. "Kak ingat ayah? Aku sudah lupa wajahnya. Kamu tidak ingin bertemu dengannya?" Momen itu — seorang pria dewasa mengakui bahwa salah satu bagian paling fundamental dari identitasnya telah begitu saja hilang — bergema dalam di hati para penonton.
Dengan informasi baru di tangan, Takuya bertekad untuk bertindak. "Aku ingin setidaknya tahu apakah beliau masih hidup", katanya sebelum berangkat ke Hokkaido. "Aku ingin bertemu satu kali saja sebelum terlambat." Kata-kata sederhana, langsung, dan sangat jujur.
Perjalanan ke Hokkaido
Mencapai Hokkaido, prefektur paling utara dan terbesar di Jepang, membutuhkan kombinasi penerbangan dan perjalanan kereta yang menekankan jarak fisik maupun emosional yang sedang dilintasi Takuya. Sesampainya di sana, ia mengunjungi balai kota setempat, berharap catatan resmi bisa memberikan petunjuk tentang pria yang sedang ia cari.
Namun bahkan saat mendekati kemungkinan solusi, keraguan pun muncul. "Bagaimana kalau beliau tidak mengenaliku?" tanyanya. Kemudian datanglah pengakuan yang paling sulit didengar oleh para penonton: "Mungkin lebih baik tidak mencarinya sama sekali."
Momen itu — ketakutan bahwa kebenaran mungkin lebih berat untuk dibawa daripada ketidakpastian yang digantikannya — adalah yang membuat kisah Takuya begitu universal mengena. Fakta bahwa ia mengungkapkannya secara terbuka, di depan kamera, tanpa upaya untuk melunak atau mempertunjukkannya, mendapat kekaguman yang luas atas kejujuran emosionalnya.
Siapa Takuya?
Takuya lahir pada 1992 dan membangun dirinya sebagai penyiar dan aktor di Korea Selatan setelah tumbuh besar di Jepang. Kepribadiannya yang hangat dan tanpa pretensi menjadikannya sosok yang populer di Living Men Season 2, program yang mengikuti sekelompok pria saat mereka menavigasi kehidupan rumah tangga, tonggak-tonggak pribadi, dan ritme kehidupan sehari-hari yang lebih tenang. Format tersebut menciptakan ruang untuk penceritaan yang tulus dan perlahan, yang persis itulah yang telah disampaikan oleh alur cerita ini.
Respons Penonton dan Resonansi Budaya
Respons di media sosial Korea sangat menonjol dalam kehangatan. Di bawah klip dan artikel tentang episode tersebut, para penonton berbagi kisah mereka sendiri tentang keretakan keluarga, orang tua yang tidak hadir, dan emosi rumit yang muncul saat memutuskan apakah akan menjangkau seseorang yang telah pergi. Banyak yang mengungkapkan kekaguman atas keberanian Takuya dalam melakukan secara publik apa yang begitu banyak orang hadapi secara pribadi.
Posisi Takuya sebagai orang Jepang yang memilih berakar di Korea menambahkan dimensi lain. Identitasnya selalu ada di persimpangan dua budaya, dan perjalanan ke Hokkaido adalah, dalam beberapa hal, pencarian bagian dari dirinya yang belum pernah bisa ia akses.
Apa yang Akan Terjadi Selanjutnya
Hingga siaran 28 Maret, hasil pencarian Takuya belum sepenuhnya terungkap. Penonton Korea perlu menyaksikan episode-episode berikutnya untuk mengetahui apakah jalan ke Hokkaido berakhir dengan reuni yang diharapkan — atau dengan jenis penutupan yang berbeda. Bagaimanapun, perjalanan itu sendiri telah meninggalkan bekasnya.
Di era hiburan yang sering mengutamakan tontonan daripada ketulusan, kisah Takuya di Living Men Season 2 adalah pengingat bahwa televisi yang paling menyentuh sering kali adalah yang paling manusiawi. Korea sedang menonton — dan mendukungnya.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist specializing in K-Pop, K-Drama, and Korean celebrity news. Covers artist comebacks, drama premieres, award shows, and fan culture with in-depth reporting and analysis.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar