TXT raih 100 juta penayangan lewat "Deja Vu"

|6 menit baca0
TXT raih 100 juta penayangan lewat "Deja Vu"

TOMORROW X TOGETHER kembali menambah pencapaian besar di YouTube setelah video musik "Deja Vu" melampaui 100 juta penayangan. Big Hit Music menyebut video itu melewati angka tersebut sekitar pukul 16.24 pada 14 Juli, menjadikannya video musik ke-10 grup yang mencapai sembilan digit.

Pencapaian ini bukan sekadar pembaruan jumlah penonton. "Deja Vu" dirilis pada 2024 sebagai lagu utama dari mini album keenam grup, minisode 3: TOMORROW, dan perjalanan panjangnya menuju 100 juta penayangan menunjukkan kuatnya cerita emosional lagu itu bagi MOA, fandom TXT, serta pendengar K-pop umum.

Video ke-10 dengan 100 juta penayangan

Bagi artis K-pop mana pun, satu video musik dengan 100 juta penayangan bisa menjadi tanda terobosan. Namun mencapai angka itu 10 kali menunjukkan hal berbeda. Itu menandakan katalog yang terus menarik perhatian lintas rilisan, bukan hanya satu momen viral. TXT, yang beranggotakan Soobin, Yeonjun, Beomgyu, Taehyun, dan Huening Kai, membangun pola itu lewat lagu-lagu dengan visual berkonsep kuat dan penampilan yang emosinya terasa langsung.

"Deja Vu" sangat sesuai dengan identitas tersebut. Lagu ini memadukan rage, subgenre trap, dengan tekstur emo rock untuk membentuk pop hibrida bernuansa pilu dan dramatis. TXT kerap memakai warna seperti ini untuk menghubungkan kisah masa muda dengan koreografi berskala besar. Lagu ini bukan hanya dibuat untuk diputar ulang; videonya juga membuat penonton kembali karena gambar-gambarnya membawa bagian penting dari cerita.

Video musiknya berpusat pada pencarian ingatan yang terasa seperti mimpi. Adegan pengejaran, keheningan, perubahan antara monokrom dan warna, serta gambar yang berulang menciptakan rasa meraih sesuatu yang selalu sedikit di luar jangkauan. Akting kelima member diperlakukan sebagai bagian dari performa, bukan sisipan drama yang terpisah. Struktur itu membantu menjelaskan mengapa video ini terus mengumpulkan penayangan lama setelah pekan perilisannya.

Koreografinya juga memberi bobot budaya fandom pada pencapaian ini. "Deja Vu" mengubah rasa rindu menjadi gerak, dengan formasi grup yang kuat dan footwork tajam di atas chorus yang sudah dianggap fans sebagai salah satu jangkar emosional lagu. Dalam K-pop, umur panjang video musik sering bergantung pada apakah performanya terus melahirkan klip, cover, dan penemuan ulang. "Deja Vu" memiliki keunggulan itu sejak awal.

Mengapa "Deja Vu" tetap penting dalam cerita TXT

Lagu-lagu terkuat TXT sering bekerja seperti bab dalam kisah pendewasaan. Mereka tidak hanya memperkenalkan konsep lalu bergerak pergi. Mereka kembali pada tema ingatan, janji, ketakutan, dan tekanan aneh untuk tumbuh sambil tetap mencoba menggenggam seseorang atau sesuatu. "Deja Vu" menjadi salah satu contoh paling jelas karena lirik dan visualnya sama-sama mengitari perasaan mengenali masa depan lewat jejak masa lalu.

Karena itu, pencapaian 100 juta penayangan terasa punya makna emosional yang spesifik. Fans tidak hanya merayakan angka. Mereka merayakan salah satu upaya paling mudah dikenali dari grup ini untuk membuat rasa sakit terlihat sinematik tanpa kehilangan daya pop. Motif mimpi dalam video memberi pintu masuk bagi penonton internasional meski belum langsung memahami lirik Korea, sementara performanya menghadirkan intensitas khas TXT yang membuat mereka menjadi aksi global.

Rekor ini juga datang saat visibilitas TXT tidak terbatas pada video musik. Program realitas mereka, TXT's Parenting Diary, yang dirilis melalui Wavve dan YouTube, berakhir pada 10 Juli setelah menarik perhatian besar secara online. Episode 1 hingga 10 yang diunggah ke YouTube rata-rata meraih lebih dari 2,18 juta penayangan per 14 Juli, dan episode pertama melampaui 4,4 juta penayangan.

Hal itu penting karena memperlihatkan dua sisi daya tarik grup bekerja bersamaan. Di panggung dan video musik, TXT mampu menghadirkan tontonan emosional yang sangat rapi. Dalam konten realitas, mereka menarik penonton lewat interaksi yang lebih hangat dan santai sehingga para member terasa dekat. Kombinasi ini memperkuat retensi fans karena audiens mendapatkan fantasi performa sekaligus keakraban personal.

Momentum solo Yeonjun ikut memperkuat narasi grup

Kabar ini juga muncul ketika Yeonjun memperluas kehadiran TXT melalui aktivitas solo. Mini album keduanya, NO LABELS: PART 02, dirilis pada 10 Juli, dan video musik lagu utamanya, "Ice Cream", melewati 10 juta penayangan pada pagi 13 Juli. Video itu juga masuk peringkat harian video musik populer global YouTube dan muncul di tangga video musik populer di 19 negara dan wilayah.

Dari sisi fisik, Yeonjun memuncaki chart album mingguan Hanteo untuk periode 6 hingga 12 Juli hanya setelah tiga hari penjualan. Album tersebut terjual 661.924 kopi pada hari pertama, sudah melampaui total pekan pertama rilisan sebelumnya. Angka itu membuat aktivitas solonya lebih dari sekadar catatan tambahan. Momentum individu member justru memberi tenaga pada merek TXT yang lebih luas.

Ini dinamika penting bagi grup yang memasuki tahun ketujuh sejak debut. TXT debut pada 2019, dan pada 2026 para member menyeimbangkan identitas grup, pengakuan individual, serta jadwal internasional. Video grup ke-10 dengan 100 juta penayangan, seri realitas yang sukses, dan performa chart solo yang kuat menunjukkan audiens TXT terlibat di banyak format, bukan hanya menunggu satu jenis konten.

Bagi fans berbahasa Inggris, kekuatan lintas format ini menjadi alasan TXT tetap mudah diikuti di tengah perputaran cepat K-pop. Grup ini punya kosakata artistik yang jelas: pop emosional, citra naratif, performa sinkron, dan budaya fandom yang memperlakukan pencapaian sebagai memori bersama. Saat "Deja Vu" mencapai 100 juta penayangan, ia menjadi penanda lain dalam cerita yang terus berjalan itu.

Apa sinyal berikutnya dari pencapaian ini

Ujian berikutnya adalah bagaimana TXT terus mengubah kekuatan katalog jangka panjang menjadi rilisan mendatang. Video musik yang mencapai 100 juta penayangan dua tahun setelah rilis mengingatkan bahwa katalog lama grup ini masih bergerak. Itu memberi fans baru pintu masuk yang alami dan memberi fans lama alasan untuk kembali ke era tersebut dengan kebanggaan baru.

Jadwal internasional grup juga menjaga cerita tetap bergerak. TXT dijadwalkan merilis single Jepang Setsuna Hanabi pada 19 Agustus, dengan empat lagu termasuk tiga lagu orisinal dan versi lain dari lagu utama. Acara live premium di Tokyo Garden Theater direncanakan pada hari perilisan, menyusul album Jepang sebelumnya, Starkissed, yang memperoleh sertifikasi double platinum dari Recording Industry Association of Japan setelah pengiriman melewati 500.000 kopi.

Aktivitas mendatang itu memberi bingkai yang mengarah ke depan bagi pencapaian "Deja Vu". Ini bukan sekadar menengok kembali hit 2024. Rekor ini datang saat TXT bergerak melalui konten realitas, promosi solo, rilisan Jepang, dan katalog yang terus bekerja. Untuk grup yang musiknya sering mengubah ingatan menjadi momentum, waktunya terasa sangat tepat.

Angka 100 juta penayangan menegaskan bahwa "Deja Vu" telah menetap dalam daftar video penentu TXT. Pencapaian ini juga menggarisbawahi mengapa grup tersebut tetap menjadi salah satu aksi naratif paling kuat di K-pop: karya terbaik mereka memberi fans sesuatu untuk dihitung, sekaligus sesuatu untuk dirasakan.

Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?

저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Im Garam
Im Garam

Music Charts & Data Analyst · KEnterHub

Music data analyst turned journalist. Im Garam covers K-pop through the numbers — chart performance, album sales, streaming milestones and touring economics — and writes the deep-dive reviews and industry analyses that put those numbers in context.

K-PopMusic ChartsAlbum SalesStreaming DataReviews

Komentar

Silakan masuk untuk berkomentar

Memuat...

Diskusi

Memuat...

Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait