Mengapa Kesepakatan Aniplus-Animax Membuat Laftel Jadi Sorotan

Aniplus bersiap melakukan perubahan korporasi yang dampaknya bisa melampaui televisi kabel Korea. Pada 1 Juli, perusahaan ini akan merampungkan merger dengan Animax Broadcasting Korea, memasukkan aset kanal anime besar sepenuhnya ke dalam struktur operasinya, sambil tetap mempertahankan merek kanal Aniplus dan Animax.
Langkah ini terdengar teknis pada awalnya: Aniplus sudah memiliki 100 persen Animax, dan merger dilakukan tanpa menerbitkan saham baru. Namun waktunya lebih menarik daripada format hukumnya. Distributor animasi Korea itu berusaha mengubah kendalinya atas kanal TV, hak tayang bioskop, merchandise, streaming, dan pertumbuhan platform luar negeri menjadi satu rantai konten yang lebih besar. Di pusat rencana itu ada Laftel, anak usaha OTT yang berfokus pada anime, yang telah masuk ke enam negara Asia Tenggara dan dilaporkan mencapai 300.000 pengguna aktif bulanan di kawasan tersebut.
Karena itu, cerita ini cocok dengan sinyal Google Trends saat ini tentang Asia Tenggara. Ini bukan sekadar konsolidasi media domestik. Ini bagian dari pertanyaan yang lebih luas: bisakah platform anime dan K-webtoon yang dijalankan dari Korea bersaing merebut penggemar Asia Tenggara yang sudah memperlakukan animasi Jepang, webtoon Korea, dan langganan streaming sebagai satu kebiasaan hiburan yang terhubung?
Merger Animax Memperketat Rantai Anime Aniplus
Aniplus mengumumkan akan menyerap Animax Broadcasting Korea pada 1 Juli, sekitar tiga tahun setelah mengumumkan akuisisi pada April 2023. Karena Animax sudah sepenuhnya dimiliki Aniplus, merger ini tidak melibatkan penerbitan saham baru dan ditangani sebagai merger skala kecil melalui resolusi direksi, bukan pemungutan suara pemegang saham terpisah. Perusahaan mengatakan kanal siaran Aniplus dan Animax yang ada akan tetap berlanjut setelah merger.
Poin terakhir itu penting bagi penonton dan pengiklan. Alih-alih menutup nama kanal, Aniplus mempertahankan dua outlet anime yang sudah dikenal sambil menyatukan manajemen dan operasi bisnis. Logikanya sederhana: mengurangi struktur korporasi yang berulang, mengoordinasikan lisensi dan distribusi, serta mempermudah perpindahan judul populer dari akuisisi ke siaran, rilis bioskop, VOD, streaming, merchandise, dan event penggemar.
Perusahaan ini sudah membangun struktur vertikal seperti itu. Bisnisnya mencakup hak animasi Jepang, siaran domestik, distribusi film, VOD, merchandise, pameran, dan operasi platform. Laporan terkait menggambarkan Aniplus sebagai pembeli dan distributor kuat untuk judul anime Jepang baru di Korea, sementara Laftel memberi grup ini platform langganan langsung untuk penggemar yang menginginkan katalog anime lebih dalam daripada layanan OTT umum.
Di pasar hiburan yang dipadati streamer global, spesialisasi bisa menjadi senjata. Netflix, Disney+, dan layanan OTT lokal yang luas bertarung di drama, film, variety show, olahraga, dan dokumenter. Identitas Laftel yang lebih sempit memberinya hubungan berbeda dengan penggemar. Ia tidak perlu menjadi segalanya untuk semua orang. Ia perlu menjadi tempat pengguna yang mengutamakan anime merasa dipahami.
Ekspansi Laftel di Asia Tenggara Adalah Sinyal Pertumbuhan Utama
Angka yang paling ramah Discover dari sumber ini adalah jejak Laftel di Asia Tenggara. Platform tersebut telah masuk ke enam negara di kawasan ini dan dilaporkan memiliki 300.000 pengguna aktif bulanan di sana, menempati posisi kedua secara lokal setelah Netflix dalam konteks kategorinya. Untuk platform spesialis anime asal Korea, itu adalah sinyal awal yang berarti.
Asia Tenggara adalah salah satu medan terpenting bagi budaya streaming Asia karena perilaku penggemar sudah lintas negara. Penonton bergerak mudah antara anime Jepang, drama Korea, webtoon Korea, konten idol, game mobile, dan edit pendek buatan penggemar. Platform yang dapat menggabungkan distribusi anime dengan animasi orisinal berbasis K-webtoon memiliki cerita yang lebih jelas daripada operator kanal sederhana yang mencoba menjual tayangan ulang ke luar negeri.
Aniplus tampaknya memahami hal itu. Perusahaan mengatakan berencana memperkuat kolaborasi dengan afiliasi termasuk Laftel, membangun rantai nilai yang mencakup akuisisi hak IP, penyiaran, dan streaming OTT, serta mengejar bisnis baru seperti produksi orisinal, perluasan toko online, dan layanan portal. Bagian-bagian itu mungkin terdengar terpisah, tetapi paling kuat ketika terhubung di sekitar fandom.
Misalnya, sebuah judul hit dapat dimulai sebagai animasi berlisensi, menarik perhatian lewat siaran dan streaming, memicu permintaan bioskop atau event, menggerakkan merchandise melalui toko online dan offline, lalu mengembalikan data untuk keputusan lisensi berikutnya. Jika pengguna Laftel di Asia Tenggara menunjukkan permintaan kuat untuk genre, studio, atau adaptasi webtoon tertentu, Aniplus dapat memakai sinyal itu saat menentukan hak apa yang akan dikejar berikutnya.
Di sinilah animasi K-webtoon juga menjadi penting secara strategis. Webtoon Korea sudah mudah menembus Asia Tenggara, dan animasi memberi IP populer bentuk lain yang bisa dipasarkan lintas bahasa. Jika Laftel dapat menawarkan orisinal berbasis K-webtoon bersama anime Jepang, platform itu dapat membangun identitas regional yang lebih berbeda daripada layanan yang sekadar melisensikan judul global yang sama.
Hit Box Office Memberi Dorongan pada Strategi Ini
Merger ini datang setelah periode kuat untuk pendapatan terkait anime di Korea. Artikel sumber menyoroti performa “Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba - Infinity Castle”, yang bab pertamanya menarik 517.956 penonton pada hari pembukaan di Korea, menembus satu juta penonton pada hari kedua, dan mengakhiri penayangannya dengan 5,7 juta penonton. Total itu menjadikannya film animasi Jepang terlaris di Korea berdasarkan jumlah penonton yang dikutip dalam laporan. “Attack on Titan: The Final Chapters” juga ikut mendorong boom anime yang lebih luas.
Hasil bioskop itu bukan sekadar angka untuk dibanggakan. Angka tersebut menunjukkan bahwa fandom anime di Korea masih bisa bergerak secara offline, bahkan di era yang sangat didominasi streaming. Ini penting bagi Aniplus karena modelnya tidak terbatas pada langganan. Perusahaan bisa mendapat manfaat dari distribusi bioskop, program kanal, jendela VOD, merchandise, dan event penggemar di sekitar semesta IP yang sama.
Liputan terkait juga menunjukkan mengapa Laftel menjadi bagian berharga bagi grup ini. Di Korea, layanan tersebut sebelumnya disorot sebagai OTT spesialis genre yang langka karena tumbuh ketika banyak platform lokal yang lebih luas kesulitan. Satu laporan menyebut pengguna aktif bulanan berbasis aplikasi melewati satu juta di Korea pada 2025, sementara liputan industri lain menunjuk kemampuan Laftel untuk tetap menguntungkan saat berinvestasi ke luar negeri. Detail itu mendukung tesis yang lebih besar: spesialisasi anime masih dapat menghasilkan trafik loyal ketika katalog, komunitas, dan harga sesuai ekspektasi penggemar.
Merger Animax dapat membuat putaran itu lebih rapat. Aniplus yang lebih terintegrasi dapat mengoordinasikan judul mana yang mendapat dorongan TV, mana yang diberi penekanan streaming, mana yang menjadi event, dan mana yang diubah menjadi merchandise atau kampanye komunitas. Dalam ekonomi penggemar, waktu adalah segalanya. Minggu pertama hype sebuah judul dapat menentukan apakah ia menjadi hit berkelanjutan atau hanya lonjakan singkat.
Mengapa Penggemar Perlu Memantau Fase Pasca-Merger
Bagi penonton biasa, perubahan langsung mungkin terasa halus karena kanal Aniplus dan Animax tetap berjalan. Perubahan yang lebih besar kemungkinan muncul pada ketersediaan judul, kecepatan promosi, paket lintas platform, program event, dan cara Laftel memosisikan diri di Asia Tenggara. Jika merger berhasil, penggemar bisa melihat jalur yang lebih terkoordinasi dari siaran anime ke akses streaming, kampanye bioskop, rilis toko online, dan pengumuman animasi orisinal.
Ada risiko. Asia Tenggara kompetitif, sensitif terhadap harga, dan terfragmentasi oleh bahasa, kebiasaan pembayaran, pembajakan, serta konsumsi mobile-first. Basis 300.000 pengguna aktif bulanan menjanjikan, tetapi masih merupakan sinyal platform awal, bukan bukti dominasi regional. Aniplus membutuhkan lokalisasi, kekuatan katalog yang konsisten, dan orisinal yang terasa layak dibayar. Perusahaan juga perlu menghindari perlakuan terhadap Asia Tenggara sebagai satu pasar, karena Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, Singapura, dan Filipina masing-masing memiliki budaya menonton yang berbeda.
Meski begitu, arahnya jelas. Aniplus bukan lagi sekadar penyiar anime Korea dengan kumpulan aset. Dengan Animax digabungkan dan Laftel berekspansi ke luar negeri, perusahaan ini berusaha menjadi perusahaan infrastruktur fandom: melisensikan IP, mendistribusikannya, menayangkannya secara streaming, menjual produk di sekitarnya, dan menguji orisinal yang bisa menembus pasar lintas negara.
Itu membuat merger 1 Juli lebih dari sekadar urusan administrasi. Ini sinyal bahwa perusahaan hiburan Korea melihat Asia Tenggara bukan hanya sebagai pasar K-pop dan K-drama, tetapi juga sebagai zona pertumbuhan untuk anime, animasi webtoon, dan platform penggemar yang terspesialisasi. Jika Laftel dapat mengubah traksi regional awalnya menjadi loyalitas berbayar, Aniplus mungkin memiliki salah satu permainan konten lintas batas Korea yang paling menarik.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
저작권자 © KEnterHub 무단전재 및 재배포 금지

Entertainment Journalist · KEnterHub
Entertainment journalist specializing in K-Pop, K-Drama, and Korean celebrity news. Covers artist comebacks, drama premieres, award shows, and fan culture with in-depth reporting and analysis.
Komentar
Silakan masuk untuk berkomentar